Tentang aku dan teman lamaku. (Problem 2)

Permasalahan kita saling menumpuk dan aku baru sadar sekarang kita tidak lagi pernah berbicara dan membicarakan tentang ini semua. Sekarang, aku hanya ingin hidup tenang tanpa bayang bayang pertanyaan “kenapa” berkali kali tentang semua persepsi mu padaku.

Ini adalah permasalahan cukup besar yang terjadi diantara kita yang membuat hubungan kita menjadi sungguh sungguh berjarak dan membuatku kapok “sebenarnya” untuk berhubungan lagi dengan kalian, hanya aku sangat menghargai pertemanan kita kala itu.

Jika aku tidak salah mengingat, kamu mengajakku untuk camping di pantai lebih dulu daripada aku mengetahui tanggal kegiatan UKM ku. Karena aku sudah terlanjur berjanji padamu, maka kutepati janjiku. Dan sebelum itu aku juga masih memiliki kewajiban untuk membimbing adik adik UKM ku di kegiatan PPKI mereka. maka dari itu, aku datang terlambat satu jam karena aku harus memenuhi kewajibanku terlebih dahulu. Untuk ini, aku berterimakasih padamu karena sudah bersedia menungguku.

Perjalanan dimulai, jika aku tidak salah mengingat. Malam itu kondisiku lapar dan pre-haid. Pun saat aku sebelum menjalankan tugas UKM ku sebenarnya mood swing ku sudah terjadi. Tiba tiba sedih dan tiba tiba bahagia di tambah kondisi lapar. Perjalanan malam menuju pantai itu aku habiskan dengan menghibur diri, nyemil, dan lain lain.

Setibanya di pantai, aku pun tidak banyak membantu kegiatan kalian karena memang saat itu aku lapar dan moodku sedang down. Bawaannya pengen nangis tanpa sebab. Dan saat itu mungkin saatku meratap karena aku tidak dengan kekasih, pun aku tidak mengenal beberapa teman, hanya kalian yang aku kenal. Pun aku menyadari kalian sedang ingin menikmati liburan itu berdua – it’s mean be Better if me off.

Hampir lupa, sejujurnya aku sudah ingin menolak ajakan pergi terutama saat tahu nasick tidak jadi ikut. Tapi karena usahaku menghargai kalian lebih tinggi daripada aku harus menolak. Aku ingin menyendiri saja saat itu, akhirnya aku masuk camp dan menangis. Aku tidak berniat mencari perhatian apapun, karena saat itu aku hanya ingin sendiri (saat itu aku berharap ada dikamar kosku sendirian). Aku menangis di camp sampai tertidur saat itu.

Ketika aku terbangun, matahari sudah meninggi. Jujur aku enggan keluar camp dengan keadaan ramai. Disaat saat seperti itu aku jujur menghindari keramaian dan pertemuan dengan orang lain yang tidak mengenalku dengan baik karena aku bisa jadi mudah sekali marah.

Aku diam di camp beberapa saat mencoba untuk memulihkan moodku. Aku mengintip keluar, kalian sedang asyik berfoto ria dengan temanmu. Aku bersyukur saat itu, aku tutup camp dan aku menikmati sendiriku sampai akhirnya kamu dan temanmu datang. Moodku sedang menuju normal saat kalian berdua datang tetapi jujur aku tersinggung pada satu percakapan kalian.

Kalian membicarkan tentang alarm yang berbunyi semalam, lalu saat itu kamu menjawab “gatau handphone siapa dengan melirikku”. Aku tahu itu handphoneku yang sedang kalian bicarakan, hanya aku jujur sama sekali tidak mendengar handphone ku berdering malam itu karena mungkin aku terlalu lelah. Jujur aku berharap saat itu kamu mencandaiku dengan ucapan “hp mu hle, kok iso gak krungu Lioe”. Daripada dengan ucapan tidak tahu sambil melirikku. Moodku hancur lagi saat itu.

Tapi aku berusaha lagi dan lagi untuk membangunkan moodku. Jika boleh jujur, aku hanya ingin tidur saat itu. Badanku lelah, perutku lapar, punggungku sakit dan badanku gatal gatal. Undescribe kondisiku saat itu. Aku juga melihatmu bahagia saat itu, dengan alasan camp akan dibongkar dan aku menghargaimu, aku memilih untuk diam saja. Aku hampir tak ingin merespon apapun. Pun aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan kalian, aku datang hanya untuk memenuhi janji dan saat itu aku selalu mencari celah untuk sendiri.

Sampai disaat kamu memutuskan untuk naik perahu itu, pertimbanganku ada dua saat itu. Pertama, aku di Minggu itu harus menyelesaikan beberapa print out skripsi untuk bimbingan dan aku sudah menyisihkan uangku untuk membeli tinta sprinter. Kedua, aku berbohong kepada orang tuaku tentang keberangkatanku ke Malang. Aku beralasan jika aku harus menyelesaikan kegiatan UKM akan tetapi aku berangkat ke Pantai dengan kondisi pantai yang sedang ombak tinggi. Aku tidak ingin mengambil resiko. Dan jika kamu teman baikku, kamu akan tahu bahwa aku takut sekali pada ibuku.

Oiya, ketika makan pagi. Aku tidak banyak memakan mie instan itu karena memang aku tidak bisa memakan mie instan pagi pagi dalam keadaan lapar. Dan akhirnya aku memutuskan untuk membeli bakso saja. Dan kamu tahu itu. Aku mencoba mencari teman baru ketika rombongan kalian akan berangkat melaut. Aku makan bakso bersama mas mas, bersama tukang parkir, penunggu pantai, ibu ibu jualan. Sampai kalian kembali jam 3 sore. Pun aku tidak mengeluhkan betapa lamanya kalian disana karena memang kalian berniat berlibur.

Sampai akhirnya waktu pulang pun tiba, dan rombongan memutuskan untuk berhenti di masjid untuk berganti baju dan makan bakso. Saat itupun aku mencoba meredam moodku karena punggungku sakit, dan aku tahu mungkin kalian lebih lelah. Hanya saat itu aku mecoba bertanya kepada kekasihmu “mas, kapan mulih?” dengan pertanyaan sesimple itu kekasihmu menjawab dengan membentak dan menceracau “yo sek ta us, kon iki gak ngerti ta bla bla bla”.

Sengaja percakapan itu tidak aku dengarkan karena memang akan menyakitkan buatku. Aku memilih diam dan pergi. Aku menenangkan diriku sendiri. Agar aku tidak menyakiti siapapun. Sampai akhirnya ketika pulang aku dan teman yang memboncengku mengambil jalan yang salah. Berbeda dari rombongan dan harus sampai di tujuan 30 menit lebih lama daripada kalian.

Saat itu aku tidak menghubungimu pun kamu juga tidak menghubungiku. Mungkin kalian berdua terlalu marah dan atau apalah itu. Jujur aku tidak peduli karena dalam persepsiku kalian juga tidak peduli padaku.

Disini kamu memahami atau tidak memang tidak akan merubah apapun bahwa aku kecewa padamu dan pada kalian (kamu dan kekasihmu). Ketika aku dan kekasihmu mencoba untuk membicarakan tentang ini, saat aku send a message bahwa “kalian berdua terus, yo aku gamau ganggu”.

Dan he said “yo iyolah, mosok awakmu ga ngerti arek tas pacaran trus nang pantai. Egois temen awakmu”.

Dia bilang aku egois, oke i’m egois. Noted that point, every time. Every i met both of you, i always remember about my ‘egois’. My pain that I never shared to you.

Tidak ada orang yang senang dihakimi,
Tanyakan apa yang ingin kau tahu,
Jangan hidup dalam persepsi sendiri.
Tia Setiawati

Uswatun Khasanah Katasmir
uswatunieq.blogspot.co.id

Post a Comment

0 Comments